Sunday, August 27, 2017

Bebek Rajut Dari Jerman

Berwisata ke Jerman di musim panas yang lalu ternyata membawa pengalaman baru bagi saya: Jerman kaya dengan handicraft! Berawal dari iseng-iseng masuk ke toko buku di stasiun Alexanderplatz Berlin, yang terjadi adalah kebingungan: banyak majalah-majalah hakken, terutama pola-pola amigurumi, yang (unfortunately) berbahasa Jerman, bahasa yang tidak pernah saya pelajari sama sekali. Oups... Untung sekarang jaman internet, jadi tinggal cari konversi pola dari bahasa Jerman ke pola Amerika, dan voila! Polanya bisa terbaca.

Namun hasrat berburu barang-barang handicraft baru bisa tersalurkan ketika kami menjelajah Altstadt (kota tua) Heidelberg. Di antara deretan toko-toko branded dan cafe-cafe cantik, terselip toko Wolle Rodel, satu-satunya toko handicraft di Altstadt (dan tampaknya satu-satunya toko khusus handicraft di Heidelberg). Rasanya seperti menemukan harta karun di antara tumpukan jerami. Saya menyempatkan diri membeli buku handicraft yang menggabungkan antara hakken dan kristik. Dan di hari kedua, karena lagi-lagi kami melewati toko itu, saya tergoda untuk sekali lagi masuk dan membeli buku amigurumi.

Toko Wolle Rodel di Altstadt Heidelberg


Dari sekian banyak buku amigurumi yang ada di toko, saya memilih membeli buku amigurumi bebek mandi, alias rubber duck. Rubber duck sangat populer di Jerman, hampir di semua toko souvenir memiliki bebek karet berwarna kuning. Tapi ketika saya mencoba mencari tahu kenapa si bebek kuning ini sangat populer, saya tidak menemukan alasan yang jelas. Satu-satunya hal menarik yang saya temukan di Wikipedia adalah event Entencup alias balapan bebek karet yang diselenggarakan di Nuremberg setiap musim panas.

Pada akhirnya, setelah selesai mengkonversi pola pada buku amigurumi tersebut, saya mencoba membuat bebek-bebek rajutan yang lucu-lucu. Bebek pertama yang saya buat adalah rubber duck standar. Setelah semua bagian rajutan digabungkan, hasilnya bukan rubber duck ala Jerman, melainkan bebek sawah berwarna kuning yang lucu.

Bebek Sawah dari Jerman
Masih penasaran, saya melakukan percobaan kedua membuat bebek rajutan. Dari sekian banyak pola, saya memilih membuat bebek penjaga kolam renang. Dan hasilnya adalah "Baywatch Duck" yang siap membantu para pengunjung pantai yang perlu pertolongan.

Bebek Baywatch

Nah, masih banyak bebek-bebek lain yang menunggu untuk dirajut. Welcome to Indonesia, German (crocheted) rubber duck!

Bebek-Bebek Rajut dan Buku Amigurumi-nya



Tuesday, August 19, 2014

Facebook Pages Rhien Craft

It's been a long time since my last post here!

Tidak terasa, sudah 2 tahun sejak posting terakhir saya, yang kebanyakan adalah memindahkan postingan di Multiply. Dua tahun terakhir ini, saya lebih banyak menulis, menulis, dan menulis. Ditambah tanggung jawab di kantor yang semakin meningkat, membuat handicraft untuk sementara waktu masuk kotak dulu.

Nah, setelah mulai ada motivasi lagi untuk membuat handicraft, dan diberi jalan untuk mulai jualan lagi dengan agak serius, sekarang saya sudah membuat FB Pages untuk jualan pernik rajutan saya. Kali ini, jualannya bekerjasama dengan Showroom Komunitas Ibu-Ibu Doyan Bisnis di Bandung. Silakan dikunjungi di sini ya: https://www.facebook.com/rhienrajut.

https://www.facebook.com/rhienrajut

Sunday, August 12, 2012

Percobaan Dengan Benang Bulky

Akhirnya setelah di'anggur'in selama 2 bulan, saya mulai merajut (baca : hakken) benang korean bulky yarn. Ternyata setelah dicoba untuk dirajut, kesulitan pertama yang terjadi adalah menemukan jarum hakken yang cocok, karena diameter benangnya yang berganti-ganti antara tipis dan tebal (dan inilah keunikan benangnya!).

Setelah menganalisa sebentar (terutama bagian benang yang tebal), akhirnya dicoba dirajut dengan jarum hakken 8 mm, namun ternyata masih agak 'seret' (baca : kekecilan, mungkin karena tarikan tangan saya yang relatif kencang), sehingga saya ganti dengan jarum hakken 10 mm (ya, jarum hakken *diameter 10 mm*, bukan 10/0!). Setelah ketemu jarum yang enak, saya mulai bereksperimen dengan setik-setik crochet. Dan seperti yang sudah-sudah, kalau benangnya sudah sedemikian 'rumit' dan 'njelimet', sebaiknya kita menggunakan setik yang sangat sangat sederhana, seperti chain, single crochet, dan maksimal double crochet. Dan hasilnya adalah seperti foto di bawah ini :

Setelah jadi syal, berhubung syalnya lumayan tebal, kaya'nya lebih cocok untuk di daerah dingin seperti di Lembang, itu pun kalau suhunya di bawah 20 derajat Celcius, hehehe.... Jadi sementara ini, biarkan si beruang ajah yang pakai syal-nya!

Cross-Stitch Book : Picture Your Pet in Cross Stitch

Buku ini adalah buku kristik pertama yang saya beli di Amazon via kutukutubuku.com, dan merupakan salah satu buku kristik favorit saya. Tema pola di buku ini adalah binatang peliharaan, termasuk di antaranya anjing, kucing,hamster, reptil, dan kuda. Yang membuat buku ini menjadi sumber pola favorit saya adalah karena gambar binatang peliharaan di dalam buku ini sangat realistis dan sangat mirip dengan binatang sesungguhnya (walaupun ada juga beberapa pola yang bertema kartun). Lagi-lagi, karena saya penggemar dogi, sebagian besar proyek yang saya kerjakan dari buku itu adalah gambar-gambar dogi.
Buku ini 'muncul' kembali di 'peredaran' work-in-progress karena tiba-tiba ada yang khusus minta dibuatkan kristik anjing labrador berwarna kuning di atas kain hitam. Setelah dikebut selama 2 malam, akhirnya selesai juga kristik labrador kuning di atas strimin hitam, tinggal tunggu kapan hasil kristikannya dijahitkan ke barangnya.

Crocheted Bojagi

Bojagi atau pojagi secara harfiah artinya patchwork, dan merupakan kerajinan tangan khas Korea. Bojagi biasanya dibuat dari potongan-potongan kain yang disatukan menjadi kain yang lebar.
Terinspirasi dari bojagi, saya mencoba membuat produk crochet dengan pola seperti bojagi. Idenya sebenarnya adalah membuat kotak-kotak beraneka warna dengan pola random. Hal ini tentunya sangat bermanfaat untuk menghabiskan sisa benang rajut. Hanya saja, karena bolak-balik di tiap baris harus mengganti warna, maka pola ini disarankan bagi mereka yang memiliki tingkat kemahiran crochet menengah.

Pertama-tama, pola dirancang di atas kertas kotak-kotak (untuk mengetahui posisi warnanya).
Setelah itu dirajut dengan teknik dc (istilah Amerika), agar kantong yang dihasilkan tidak terlalu kaku/rigid. Hasil rajutan dibuat dalam bentuk lembaran, baru kemudian dilipat dan pinggirnya dirajut untuk menyatukan kedua sisi.
   
Tampak Depan
Tampak Belakang
 Rapikan dengan memberi sc atau dc pada pinggiran atas rajutan, beri kancing atau pasang tali serut.

Thursday, June 28, 2012

Rajutan Dengan Benang Sulam

Mungkin saya yang agak ketinggalan jaman, tapi gara-gara saya beli buku crochet berbahasa Jepang, saya baru sadar bahwa benang sulam yang biasa digunakan untuk mengkristik rupanya bisa juga digunakan untuk hakken!

Jadi inilah percobaan pertama saya, menggunakan benang sulam hasil beli obralan dan jarum hakken 1/0. Rupanya tidak susah juga, karena walaupun lebih licin dibandingkan benang acrylic lokal, namun benang sulam masih cukup kesat sehingga jarum tidak cepat melorot. Memang kita harus berhati-hati jangan sampai jarum rajutnya tersangkut, membuat benang yang terdiri dari 6 lembar benang kecil akan terurai. Keuntungan lainnya dari menggunakan benang sulam adalah warna gradasi benang yang beraneka ragam dengan rentang yang lebar, membuat kreasi Anda bisa lebih berwarna warni dibandingkan menggunakan benang acrylic lokal.

Dan.... inilah karya pertama saya : korsase yang dihasilkan dari 5 meter benang sulam Anchor.


Sunday, July 11, 2010

Tikus Berbulu

Lagi iseng-iseng buka majalah CrossStitcher, menemukan pola tikus "berbulu" yang dibuat dengan benang Madeira Lana. Halah, jenis benang apa lagi ini?? Kalaupun dijual di sini, pasti mahal banget!
Saking gregetan mau nyoba, tiba-tiba teringat bahwa masih punya benang felting yang buat merajut. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya si tikus berhasil disulam dengan benang PDK Tobucil (hanya polanya harus dimodifikasi, karena kebetulan di rumah stok benang PDK adanya coklat tua, jadilah si tikus genit berwarna pink berubah menjadi tikus got coklat tua...). Pas melihat hasil akhirnya, kok kaya'nya kurang fluffy ya?? Setelah membaca petunjuk di majalah, rupanya benang yang harusnya berbulu itu harus di"tarik-tarik" dengan prepet supaya berbulu. Ooo... setelah di-"prepet" beberapa kali, akhirnya bulu-bulunya pada keluar. Seru juga! Pas dicoba lagi dengan benang wol lokal, setelah ditarik dengan prepet, hasilnya sebenernya berbulu juga, cuman kurang fluffy.
(sayangnya, di foto tikusnya tidak terlihat fluffy...)




O ya, setelah saya mencari info lebih lanjut, benang Madeira Lana itu ternyata punya komposisi 50% wool dan 50% acrylic, makanya mungkin bisa disubstitusi pakai benang lokal yang komposisinya 88% katun dan 12% acrylic.

Tips : kalau mau mem-fluff hasil sulaman dengan prepet, sebaiknya bagian yang fluff disulam terlebih dahulu, kemudian di-fluff dengan prepet sebelum menyulam bagian lain dengan benang sulam biasa. Ini mencegah bagian yang disulam dengan benang sulam biasa rusak.



Sunday, July 04, 2010

Kantong Botol Air Minum

Another project for water bottle holder! Idenya berasal dari free pattern di salah satu website (klo ga salah groovy crochet), tapi waktu dicari lagi udah nggak ketemu. :(


Dulu udah pernah mencoba membuat pola serupa dengan modifikasi untuk botol air mineral merk A*** volume 600 ml dan 300 ml pakai benang nylon (yang digulung pakai cone), dan hasilnya lumayan sukses (walaupun harus pakai extra tenaga untuk merajut benang nylon, karena benangnya super peret...). Kebetulan di rumah lagi trend menggunakan botol air minum 1 liter, dan karena agak susah membawa-bawa botol berukuran lumayan besar (dan agak susah untuk dimasukkan ke dalam tas), jadi aku terinspirasi untuk membuat (lagi) kantong botol minum, kali ini yang ukurannya agak besar. Kebetulan masih punya benang nylon hasil beli di toko Crayon, jadi sekalian mau nyoba juga.

Mulailah daku merajut dengan benang nylon dan hook 3/0. Menjelang membuat tali pegangan, oo, benangnya kok sisanya gak banyak ya?? Untung waktu benangnya dihabiskan jadi tali pegangan, panjang talinya cukup untuk menenteng botol dimaksud (lagipula kalau botol 1 liter penuh mau diselempangkan di pundak, berat nian...) Jadilah aku berkesimpulan, kalau 1 gulung benang nylon di toko Crayon cuma bisa menghasilkan satu benda tanpa tali yang terlalu panjang. Beda dengan cone, waktu itu bikin 1 tas, 2 water bottle holder dengan tali panjang, masih ada sisanya, rasanya gak habis-habis... Tapi puas banget melihat benda jadinya, setelah dicoba untuk menggantung botolnya dalam keadaan penuh di mobil, pegangannya cukup kuat, horeh!


Friday, June 18, 2010

Surat Pembacaku Dimuat!

Beberapa waktu yang lalu aku mengirim surat pembaca ke majalah The World of Cross Stitching, menceritakan karyaku yang dibuat dari salah satu pola di majalah itu. Kira-kira sebulan setelah aku mengirim e-mail dan fotonya, salah satu redakturnya mengirim balasan minta alamat rumah, rupanya mereka berencana memuat suratku di edisi bulan Juni, dan apabila beneran dimuat, mereka akan mengirim suvenir ke rumah.

Awal Juni, sebelum aku sempat ke toko buku untuk mencari majalahnya, rupanya kiriman suvenirnya sudah tiba di rumah, hore, berarti surat pembacaku dimuat! Suvenirnya "cuman" kain Aida warna hijau (termasuk barang agak langka di sini...), 1 benang sulam DMC (tapi khusus yang diedarkan di Inggris, labelnya agak beda sama yang dijual di sini), sama 1 leaflet pola, tapi seneng bangeeeeettt....

Baru pada akhir minggu aku berkesempatan ke Kinokuniya untuk beli majalahnya, dan setelah melihat surat pembacanya aku baru sadar, ternyata suratku lumayan panjang... dan dikasih komentar sama redakturnya. Nggak tahu apakah kebetulan atau merupakan kesengajaan, mereka memuat suratku berbarengan dengan penerbitan bonus pola Eeyore di edisi Juni itu. Senangnyaaa....